PKS Dulu dan Kini, antara idealisme VS pragmatisme
PKS dalam kancah perpolitikan nasional memang sebuah fenomena. Lahir pasca Reformasi 1998 yang ditandai dengan Lengser Keprabon nya Penguasa Orde Baru dan dimulainya era baru panggung politik Nasional.
Tidak diperhitungkan diawalnya. Perlahan menjadi fenomena. Sempat terseok-seok di pemilu 1998, tidak Lolos electoral threshold sampai harus membentuk Fraksi Reformasi melalui koalisi dengan partai yang dibidani Amien Rais.
Kesolidan kader serta militansi dalam perjuangan. Kesalehan sosial melalui pelayanan masyarakat, menerapkan kesederhanaan dalam hidup yang banyak dicontohkan oleh kader-kadernya membuat masyarakat terpukau dan menjadikannya besar di tahun politik 2004.
Slogan bersih, peduli dan Profesional menjadi magnet yang mempunyai daya tarik dahsyat.
Satu-persatu jabatan publik strategis didapat. Kekuasaan dalam genggaman. Deal-deal politik dilakukan demi kekuasaan. Idealisme mulai mendapat ujian berat karena harus berhadapan dengan kekuatan yang lain. Harus ada Kompromi. Harus ada yang dikorbankan sedikit demi sedikit.
Kekuasaan memang enak dan melenakan. Jalan Zuhud harus bersinggungan setiap saat dengan hedonisme. Yang satu berseru Jangan!! yang lain merajuk Tak Apalah, Kan gak apa-apa sedikit aja. Toh Kapan lagi kita mencicipi dunia.
Hasilnya, Elite Partai semakin jauh dari Kader kelas bawah dalam dalam memberikan keteladanan dalam kezuhudan.
Gaya hidup Parlente mulai tidak segan dipertontonkan ditengah kepapaan. BMW dan Rolex bukan lagi barang yang Kalau bisa dijauhi. Tidak ada yang salah barang itu. Sah-sah saja mengoleksinya sampai 3,4.5. Namun jalan hidup itu menjaga jarak dengan Titah Uswahnya tentang kesederhanaan. Tentang kezuhudan sebagai perisai ampuh terhadap kerakusan dunia.
Kader-kader yang masih berdiri dalam kezuhudan, berjuang tulus dalam medan dakwah sebagian memilih mundur teratur dari barisan. Kilau partai ini dalam skala tertentu meredup boleh jadi karena faktor eksternal bagaimana media mainstream membentuk opini masyarakat dan bagaimana partai ini di stigmakan.
Tapi faktor internal kiranya yang paling berkontribusi dalam redupnya partai dakwah ini.
Masyarakat sesungguhnya tidak buta. Tidak tidur. Mereka mengingat dan mencatat baru kemudian memutuskan memberikan hadiah atau justru hukuman.
Jakarta menjadi Contoh dan Pelajaran nyata.
Bagaimana digdayanya PKS di Jantung Pemerintahan dalam Pilgub David Vs Goliath. PKS kalah dengan kepala tegak. Penuh wibawa.
Pilgub di kota yang sama di pemilu berikutnya PKS dibuat babak belur. Tragis, menyedihkan meski kita masih bisa berargumen menang kalah itu hal biasa dalam politik.
Kapan PKS introspeksi? Ini hanya pendapat pribadi yang tidak mungkin menggambarka PKS secara utuh, tapi setidaknya ini yang penulis dan beberapa kawan penulis rasakan dalam dinamika partai ini.
bersambung..
No comments:
Post a Comment